BPBD Kota Magelang Gelar Rakor Zoonosis, Perkuat Kesiapsiagaan Menghadapi Musim Hujan

Written by

in

Kota Magelang 28 Oktober 2028 – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Magelang menyelenggarakan rapat koordinasi (rakor) terkait kewaspadaan dan penanganan zoonosis bersama Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa), Dinas Sosial (Dinsos), Palang Merah Indonesia (PMI), serta UPT Kebun Raya Gunung Tidar, Dinas Kesehatan dan Puskemas se-Kota Magelang. Kegiatan ini bertujuan memperkuat koordinasi lintas sektor dalam mengantisipasi potensi risiko kesehatan dan bencana menjelang musim hujan.

Rakor ini juga menindaklanjuti informasi yang disampaikan dalam kunjungan Direktur BMKG ke BPBD Kota Magelang pada 15 Oktober 2026. Dalam kunjungan tersebut disampaikan bahwa prediksi musim hujan tahun ini memiliki intensitas yang relatif sama dengan tahun 2025, tetapi berlangsung dalam kurun waktu yang lebih pendek. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama dalam upaya meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi berbagai potensi risiko.

Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah kewaspadaan terhadap penyakit yang ditularkan melalui hewan maupun penyakit akibat bakteri. Menyikapi kejadian antraks di Gunungkidul, diperlukan peningkatan kewaspadaan terhadap lalu lintas hewan dan produk hewan yang berpotensi membawa penyakit. Selain itu, potensi kejadian keracunan makanan akibat kontaminasi bakteri juga perlu diantisipasi melalui pengawasan dan edukasi kepada masyarakat.

Dalam rakor tersebut, sejumlah langkah tindak lanjut dibahas bersama. Untuk mencegah penyebaran demam berdarah dengue (DBD) menjelang musim hujan, akan dilaksanakan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) serta edukasi kepada masyarakat agar melakukan PSN secara mandiri. Siswa juga disarankan menggunakan losion antinyamuk sebagai salah satu upaya perlindungan diri di lingkungan sekolah.

Sementara itu, untuk mengantisipasi leptospirosis, masyarakat diimbau menjaga kebersihan lingkungan dan menggunakan alat pelindung diri, seperti sepatu bot dan sarung tangan, saat melaksanakan kegiatan bersih-bersih di area yang berpotensi terkontaminasi. Upaya ini diharapkan dapat mengurangi risiko paparan bakteri penyebab leptospirosis.

PMI menyatakan kesiapan untuk mendukung upaya pencegahan penyakit melalui kegiatan disinfeksi di sekolah sesuai kebutuhan dan arahan instansi kesehatan, serta berperan sebagai mitigator dalam penanganan kejadian zoonosis di tingkat kelurahan. Pelaksanaan kegiatan tersebut tetap perlu memperhatikan prosedur kesehatan dan jenis penyakit yang ditangani.

Selain itu, pengendalian populasi monyet ekor panjang di kawasan Kebun Raya Gunung Tidar juga menjadi perhatian untuk mencegah perluasan wilayah jelajah satwa ke permukiman warga. Upaya ini perlu dilakukan secara terkoordinasi dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan masyarakat dan kelestarian satwa.

Dalam aspek penanganan dampak sosial, Dinas Kesehatan bersama Dinas Sosial akan menjajaki pemanfaatan Jaring Pengaman Sosial (JPS) sebagai salah satu opsi untuk mendukung penanganan masyarakat terdampak kejadian keracunan makanan.

Melalui rakor ini, BPBD Kota Magelang berharap koordinasi lintas sektor semakin kuat sehingga langkah pencegahan, edukasi, dan penanganan dapat dilaksanakan secara terpadu. Kesiapsiagaan seluruh pihak serta partisipasi aktif masyarakat menjadi faktor penting dalam mengurangi risiko penyakit dan dampak yang dapat ditimbulkan menjelang musim hujan.