Author: Admin BPBD

  • BPBD Kota Magelang Dirikan Posko Siaga Bencana Hidrometeorologi Selama Idul Fitri 1446 H

    BPBD Kota Magelang Dirikan Posko Siaga Bencana Hidrometeorologi Selama Idul Fitri 1446 H

    Kepala Pelaksana BPBD Kota Magelang, Machbub Yani Arfian.\ sebagai pembina apel Posko Siaga Darurat Hidrometeorologi selama Idul Fitri 1446 /tahun 2025 di halaman Kantor BPBD Kota Magelang. (Dok)

    MAGELANG (SUARABARU.ID) – Satgas BPBD Kota Magelang melaksanakan apel Posko Siaga Darurat Hidrometeorologi selama Idul Fitri 1446 /tahun 2025 di halaman Kantor BPBD Kota Magelang, kemarin.  Sebagai pembina apel Kepala Pelaksana BPBD Kota Magelang, Machbub Yani Arfian.

    Apel ini sebagai tindak lanjut Surat Edaran Gubernur Jawa Tengah No. 300.2/278 tentang Upaya Kesiapan dan Antisipasi Menghadapi Libur Lebaran 1446 H Tahun 2025.

    Posko Siaga Darurat Hidrometeorologi selama Idul Fitri 1446 H tahun 2025 bertempat di Kantor BPBD Kota Magelang selama 24 jam, mulai Senin 24 Maret 2025 dan berakhir Senin 8 April 2025. Posko didukung 2 kendaraan roda empat dan 1 unit sepeda motor serta peralatan kebencaan lainnya seperti chainsaw, alcon, tower light

      Kalak BPBD Kota Magelang mengecek peralatan kebencanaan yang dimiliki dan memastikan dapat berfungsi dengan baik. (Dok)

    Dalam arahannya, Machbub menerangkan, apel ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan hadapi bencana hidrometeorologi selama Idul Fitri 1446 H Tahun 2025. Prediksi BMKG. bahwa selama Idul Fitri diperkirakan masih turun hujan dengan intensitas sedang sampai tinggi.

     Seluruh satgas yang bertugas diminta untuk bersinergi dan berkoodinasi dengan pihak terkait, dan terus memamtau informasi dari BMKG.

     Seusai apel, Kalak BPBD Kota Magelang mengecek langsung peralatan kebencanaan yang dimiliki dan memastikan dapat berfungsi dengan baik.

    Doddy Ardjono



  • Bocah Tenggelam di Sungai Progo Magelang Ditemukan Meninggal

    Bocah Tenggelam di Sungai Progo Magelang Ditemukan Meninggal

    Eko Susanto – detikJateng
    Selasa, 04 Mar 2025 11:42 WIB

    Magelang – Bocah berinisial OE (10) (sebelumnya ditulis RB, 9 tahun) yang tenggelam di Sungai Progo wilayah Tuk Songo, Kota Magelang, telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Lokasi penemuannya berjarak sekitar 3 km dari titik awal dia tenggelam.
    Penata Penanggulangan Bencana Ahli Muda BPBD Kota Magelang, Siska Sriyoga, saat dikonfirmasi membenarkan korban sudah ditemukan sekitar pukul 09.02 WIB.

    “Ditemukan di Kampung Ngiwon (Desa Banyuwangi, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang) pukul 09.02 WIB oleh tim susur darat,” kata Yoga dalam pesan singkatnya, Selasa (4/3/2025).

    “Iya (meninggal). Jenazah utuh dan masih bisa dikenali,” tambahnya.

    ADVERTISEMENT
    “(Jenazah) Korban kita bawa ke RSUD Tidar Kota Magelang,” kata Basuki.

    “Kendala di lapangan yang arus cukup kuat dan lebarnya sungai,” sambung dia.

    Sebelumnya diberitakan, seorang anak berinisial OE diduga tenggelam di Sungai Progo wilayah Tuk Songo, Kota Magelang, malam tadi. Tim gabungan yang terdiri Basarnas, BPBD Kota Magelang, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat hari ini melanjutkan pencarian.

    Penata Penanggulangan Bencana Ahli Muda BPBD Kota Magelang, Siska Sriyoga, mengatakan pihaknya menerima laporan dari orang tua korban pada Senin (3/3) pukul 20.00 WIB. Korban warga Karanggading, Kelurahan Rejowinangun Selatan, Kota Magelang.

    “Diduga tenggelam di aliran Sungai Progo sekitar Tuk Songo. Kami langsung merapat ke lokasi, kemudian menghubungi Basarnas, dan di lokasi sudah ada dari Polsek Magelang Tengah,” kata Yoga kepada wartawan, Selasa (4/3/2025).

    Yoga menjelaskan, berdasarkan rekaman CCTV pada Senin (3/3) sekitar pukul 12.00 WIB, anak tersebut bersama tiga temannya berangkat main naik sepeda.

    “Lalu sekitar jam 13.00, kembali (pulang) hanya tiga anak. Jadi satu anak hilang, tapi ketiga anak tersebut tidak melaporkan kepada orang tuanya. Mereka lalu pulang, ketika sampai di rumah, orang tua korban mencari dan mendatangi salah satu anak. Saat itu memperoleh informasi anaknya dilaporkan tenggelam di aliran Sungai Progo,” ujar Yoga.

    Pencarian anak itu dilakukan mulai Senin (3/3) sekitar pukul 20.30 WIB. Pencarian dilakukan warga dan Basarnas hingga pukul 23.30 WIB.

    “Karena ada laporan dari BPBD Temanggung bahwa curah hujan cukup tinggi, untuk mengurangi risiko dan alasan keamanan (pencarian dihentikan). Terus dilanjutkan hari ini mulai pukul 07.00 WIB,” kata Yoga.

  • Aksi Bersih Sungai Mitigasi Longsor Diikuti Ratusan Personil, Termasuk Mahasiswa, Guru dan Siswa

    Aksi Bersih Sungai Mitigasi Longsor Diikuti Ratusan Personil, Termasuk Mahasiswa, Guru dan Siswa

    Editor:

    Doddy

    16 Februari 2025 @08:33 

    MAGELANG (SUARABARU.ID) – Ratusan personil dari BPBD Kota Magelang, TNI, Polri, Relawan Garda, PMI, Komunitas Peduli Sungai, Mahasiswa, Guru serta Siswa SMK Pius X, Sabtu 15/2 melaksanakan kegiatan aksi bersih sungai mitigasi longsor.

    Yang menjadi sasaran aksi bersih sungai adalah Kali Gandekan, dengan tema ‘Kaline Resik, Disawang Becik, Rejekine Apik’.  Aksi ini diinisiasi Kelurahan Tidar Selatan, sebagai tindak lanjut dan upaya mitigasi tanah longsor selama musim penghujan.

    Kepala Kelurahan Tidar Selatan,  Danang Kurniawan mengatakan, kebersihan lingkungan utamanya kebersihan Kali Gandekan menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Dia juga mengimbau seluruh warga untuk tidak membuang sampah di sungai.

    ‘’Kegiatan ini juga sebagai wujud nyata aksi 100 hari Wali Kota Magelang terpilih, Damar Prasetyono,’’ tambahnya.

    Acara dilaksanakan mulai pagi hari hingga siang dengan membersihkan sampah yang ada di sungai, memangkas dahan pohon yang berpotensi tumbang dan membuat penahan longsor sederhana.

    Kepala BPBD Kota Magelang  Machbub Yani Arfian menerangkan, kegiatan ini sebagai upaya membangun kerjasama dalam penanggulangan bencana.

    Seperti diketahui, Pemkot Magelang telah menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi yang berlaku sampai bulan maret 2025. Dia menambahkan kegiatan serupa dapat dilaksanakan di kelurahan-kelurahan lain sebagai wujud ketangguhan dalam menghadapi bencana.

    BPBD juga memasang spanduk yang berisi peringatan dalam menghadapi musim penghujan tahun ini. Spanduk berisi imbauan untuk membersihkan drainase, memangkas pohon yang berpotensi tumbang dan melakukan pemantauan wilayah secara mandiri.

    Pada acara reresik kali Gandekan juga dilepaskan bibit benih ikan untuk menjaga ekosistem sungai.  (Doddy Ardjono)

  • Hujan Deras, Talud Longsor Timpa Rumah Warga di Kedungsari

    Hujan Deras, Talud Longsor Timpa Rumah Warga di Kedungsari

    Asef Farid Amani

    – Rabu, 22 Januari 2025 | 14:29 WIB

    LONGSOR TALUD: Petugas gabungan dari BPBD, relawan, anggota Polri, Damkar, dan dibantu warga membersihkan puing-puing rumah warga yang terkena longsoran talud dan tembok. (SM/Ist)

    MAGELANG, kedu.suaramerdeka.com – Akibat diguyur hujan dengan intensitas tinggi, sebuah talud di Jalan Buton RT 02 RW 04 Kelurahan Kedungsari Kota Magelang longsor, Senin (20/1) malam. Longsoran talud dan tembok pembatas milik warga bernama Lena ini menimpa bagian rumah dari Kyai Saiful Karim.

    Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, karena penghuni rumah sedang berada di luar kota. Namun, bagian rumah berupa 2 kamar semi permanen yang biasanya dihuni santriwati roboh akibat tiang penyangga terkena longsoran.

    “Kerusakan berupa dapur dan kamar mandi rusak berat dan kamar santri roboh akibat tidak mampu menahan beban. Di samping itu atap garasi harus dirobohkan, karena tertimpa runtuhan bangunan atap kamar yang berdiri di atasnya,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kota Magelang, Machbub Yani Arfian.

    Dia menuturkan, pihaknya langsung melakukan penanganan pada Selasa (21/1) pagi dengan melibatkan relawan baik PMI maupun Garda Relawan, Damkar, anggota Polri, dan warga setempat. Penanganan dilakukan dengan menyelamatkan barang berharga dan membersihkan puing yang berpotensi menimpa penghuni.

    Petugas Damkar dengan menggunakan alat pemotong beton untuk merobohkan tembok di atas bangunan, karena berpotensi runtuh dan membahayakan bangunan di bawahnya.

    Dikatakan Machbub, BMKG memprediksikan hujan intensitas tinggi akan terus mengguyur wilayah Kota Magelang. Untuk itu warga dihimbau dapat meningkatkan kewaspadaan.

    “Kota Magelang telah mengeluarkan Surat Keputusan Siaga Bencana Hidrometeorologi dan menggelar Apel Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi. BPBD Kota Magelang juga telah mendirikan Posko Siaga Bencana Hidrometeorologi dan meningkatkan patroli serta upaya mitigasi dalam hadapi bencana tersebut,” jelasnya.

    Dia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk dapat meningkatkan kewaspadaan hadapi musim penghujan dan meningkatkan kerja sama saat terjadi bencana di Kota Magelang. 

  • Kepala BPBD Kota Magelang Ingatkan Ancaman Bencana Hidrometeorologi

    Kepala BPBD Kota Magelang Ingatkan Ancaman Bencana Hidrometeorologi

    Puput Puspitasari

    – Sabtu, 21 Desember 2024 | 22:00 WIB

    Apel siaga penanggulangan bencana hidrometeorologi di Kota Magelang, Jumat (20/12/2024). (IST)

    RADARMAGELANG.ID, Magelang – Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kota Magelang Machbub Yani Arfian mengimbau masyarakat selalu waspada terhadap ancaman bencana hidrometeorologi.

    Pasalnya, beberapa titik wilayah di Kota Magelang memiliki tingkat kerawanan bencana yang berbeda, sesuai karakteristik wilayah masing-masing.

    Bencana longsor misalnya, terjadi di daerah kemiringan/tebing dan bantaran sungai. Seperti di Kampung Tidar Dudan, Wates, Rejowinangun Utara, Panjang, Gelangan.

    “Tetapi sekali lagi, longsor di Kota Magelang masih tergolong kecil, namun tetap waspada,” ungkapnya, usai apel siaga bencana di kantor setempat, Jumat (20/12/2024).  

    Mskipun Pemkot Magelang menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi yang salah satunya banjir, namun kemungkinan kecil terjadi di Kota Magelang. Karena kondisi geografisnya.

    “Hanya genangan, bukan banjir. Artinya jika hujan selesai, maka air akan ikut surut. Penyebabnya (genangan) karena drainase yang tidak mencukupi,” imbuhnya.

    Sementara ancaman angin kencang, diperkirakan tidak sampai berpotensi angin puting beliung. Meski, terpaan angin kencang kerap merobohkan pepohonan.

    Sementara itu, Sekda Kota Magelang Hamzah Kholifi mengatakan ancaman di luar hidrometeorologi yang  paling sering terjadi adalah kebakaran.

    Hamzah ingin menguatkan upaya preventif. Agar tidak jatuh korban jiwa dan materi saat terjadi bencana apapun.   (put/lis)

    Editor: Lis Retno Wibowo