Author: AdminBpbd

  • Relawan Tanggap Bencana di Kota Magelang Masih Minim, BPBD Terus Sosialisasi

    Relawan Tanggap Bencana di Kota Magelang Masih Minim, BPBD Terus Sosialisasi

    KOTA MAGELANG, MAGELANGEKSPRES. DISWAY. ID-Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Magelang memberikan sosialisasi kerelawanan kepada relawan Baznas Kota Magelang, Rabu(28/9). Sosialisasi tersebut bertujuan meningkatan kapasitas kualitas relawan yang ada.

    Ketua Baznas Kota Magelang, Ahmad Zaenudin menjelaskan relawan Baznas Tanggap Bencana baru saja terbentuk sehingga perlu diberikan pelatihan agar terwujud relawan tangguh dan profesional sehingga mampu berkolaborasi dengan relawan lain saat terjadinya bencana di Kota Magelang.

    “Relawan Baznas Tanggap Bencana (BTB) dituntut mampu bertindak profesional dalam penanganan bencana dan mampu untuk berkoordinasi dan berkolaborasi dengan relawan di luar Baznas,”ujarnya.

    Saat ini tim relawan BTB baru berjumlah 6 personel, namun demikian dalam beberapa kerjadian bencana mereka telah turun ke lokasi bencana bersama relawan lain untuk turut atasi bencana.

    Suyono, staf BPBD yang menjadi narasumber untuk relawan Baznas menyampaikan materi dan motivasi terkait kerelawanan. Suyono yang sudah lama berkecimpung menjadi relawan sebelum menjadi ASN BPBD ini mengungkapkan bahwa relawan harus benar– lbenar bergerak dengan hati untuk membantu sesama, dan memegang teguh panca darma relawan penanggulangan bencana yaitu mandiri, profesional, solidaritas, sinergi dan akuntabel.

    “Relawan BTB perlu terus meningkatkan kemampuan dengan mengikuti pelatihan yang ada agar mampu menjadi relawan Baznas tanggap bencana,”katanya.

    Salah satu perserta, Sugiono mengharapkan adannya pelatihan lanjutan agar kapasitas dan kualitas relawan dapat terus meningkat sehingga mampu diandalkan saat terjadinya bencana. (hen)

  • Jangan Disiram, Begini Tangani Kebakaran yang Benar

    Jangan Disiram, Begini Tangani Kebakaran yang Benar

    KOTA MAGELANG – Sebanyak 80 peserta mengikuti pelatihan pencegahan bencana kebakaran yang dilaksanakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Magelang di kantor instansi setempat, Jalan Lamtoro, Magelang Selatan. Peserta merupakan perwakilan dari 17 kelurahan yang ada di Kota Magelang.

    Kepala Pelaksana BPBD Kota Magelang, Machbub Yani Arfian mengatakan, setiap kelurahan mengirim setidaknya 5 peserta. Melalui pelatihan diharapkan, warga memahami penanganan bencana, salah satunya kebakaran.

    “Latihan ini berfokus pada pemahaman awal mengenai pertolongan atau upaya awal dalam penanganan bahaya kebakaran,” kata Machbub, kemarin.

    Menurutnya, pencegahan bencana bukan menjadi tanggung jawab pemerintah dan aparat saja. Melainkan semua lapisan masyarakat agar turut berperan dalam mitigasinya.
    ”Tak terkecuali kebakaran. Selain bisa memitigasi (mencegah) kebakaran, warga juga bisa melakukan pemadaman dini, sebelum petugas Damkar datang. Ini akan mengurangi risiko parah musibah kebakaran,” ujarnya.

    Para peserta, kata Machbub, dilatih untuk melakukan pemadaman dini dengan alat-alat sederhana. Sebab, selama ini masyarakat tahunya, memadamkan api cukup dengan air saja.

    ”Padahal ada pada suatu tertentu api tidak padam meskipun disiram dengan air. Misalnya kebakaran akibat bahan bakar, ini kalau disiram pakai air pasti apinya akan lari kemana-mana. Bukannya memadamkan, tapi risiko titik lain terbakar justru lebih besar,” ungkapnya.

    Menyikapi hal tersebut, lanjutnya, maka penting bagi masyarakat mengetahui karakteristik kebakaran. Menurutnya, hal terpenting dalam melakukan penanganan bencana, adalah tetap tentang dan tidak panik.

    ”Kami berharap dengan pelatihan ini bisa memberikan bekal bagi masyarakat, ketika terjadi bencana minimal bisa menolong diri sendiri, terlebih bisa menolong orang lain,” katanya.

    Sementara itu, Ketua Garda Relawan Indonesia Magelang, Heri Prawoto menambahkan, pelatihan pemadaman dan pencegahan kebakaran tersebut sebagai salah satu upaya untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan.

    “Pencegahan kebakaran dan penanggulan secara dini terhadap bahaya kebakaran juga untuk memberikan pengetahuan apa yang harus dilakukan oleh masyarakat bila terjadi kebakaran di rumah,” katanya.

    Ia berharap, para peserta yang mengikuti pelatihan tersebut bisa mengedukasi kepada orang lain tentang tata cara penanggulangan dan pencegahan kebakaran. Selain itu, para peserta juga bisa membantu petugas pemadam kebakaran.

    Setelah dibekali secara teori, para peserta juga melakukan simulasi penanganan kebakaran. Heri menambahkan, proses pemadaman api secara sederhana bisa dilakukan dengan Apar maupun alat-alat sederhana yang ada di rumah.

    ”Hanya saja, caranya harus benar dan tepat. Khusus untuk penggunaan mobil pemadam kebakaran, mereka kami latih untuk membantu petugas pemadam. Seperti memasang selang air pemadam dan lainnya,” ucapnya. (wid)

  • Pelatihan Peningkatan Kapasitas Untuk 50 TRC dan Relawan Kota Magelang

    Pelatihan Peningkatan Kapasitas Untuk 50 TRC dan Relawan Kota Magelang

    KOTA MAGELANG – Sebanyak 50 orang dari Tim Reaksi Cepat (TRC) dan relawan mendapatkan pelatihan peningkatan kapasitas penanggulangan bencana di kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Magelang (BPBD) Kota Magelang, Selasa (28/6/2022).

    Pelatihan ini dilaksanakan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada peserta agar mampu melaksanakan tugas dengan cepat dan tepat.

    “Kegiatan ini untuk pengembangan kapasitas agar mereka kuat, tidak segan untuk menolong sesama. Maka kita dorong dengan pelatihan ini, nanti akan kita susul dengan kegiatan lain,” terang Kepala Pelaksana BPBD Kota Magelang Machbub Yani Arfian.

    Machbub menyebutkan, sebanyak 50 peserta tersebut meliputi 20 orang TRC BPBD dan sisanya para relawan dari unsur masyarakat. BPBD Kota Magelang merupakan perangkat daerah yang baru terbentuk sehingga masih perlu pengembangan baik sumber daya manusia maupun sarana dan prasarananya.

    “Kita bertahap untuk pemenuhan peralatannya, kita juga tidak hanya mengandalkan APBD Kota Magelang, tapi juga mengusulkan anggaran ke Pemprov Jateng, BNPB dan menggandeng swasta,” imbuh Machbud.

    Sementara itu, Wali Kota Magelang dr. Muchamad Nur Aziz mengungkapkan, pelatihan tersebut untuk memperkuat secara teknis tim TRC maupun relawan untuk kesiapan jika terjadi bencana. Pihaknya akan terus mengembangkan BPBD agar menjadi lembaga yang bisa diandalkan saat terjadi bencana.

    “Ini untuk memperkuat teknis, kalau terjadi bencana sudah siap. Akan dikembangkan terus dengan anggaran yang ada. Sarana prasarana harus dilengkapi karena baru setahun, kita tambah satu per satu,” imbuh Dokter Aziz.

    Dokter Aziz berpesan, TRC harus tanggap dan tangguh dalam menangani bencana, bersemangat, penuh pengabdian dan tanpa pamrih menolong sesama. Selain itu, TRC diharapkan menularkan pengetahuan dan keterampilan yang telah didapat dari pelatihan ini ke relawan yang lain. (pemkotmgl).

  • BPBD Kota Magelang Gelar Pelatihan untuk Tingkatkan Upaya Penanggulangan Bencana

    BPBD Kota Magelang Gelar Pelatihan untuk Tingkatkan Upaya Penanggulangan Bencana

    Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting

    TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Magelang melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menggelar pelatihan kepada 50 orang dari Tim Reaksi Cepat (TRC).

    Pelatihan itu dilakukan sebagai bagian dari upaya peningkatan kapasitas penanggulangan bencana di Kota Magelang.

    Kepala Pelaksana BPBD Kota Magelang, Machbub Yani Arfian, mengatakan pelatihan itu dilaksanakan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada peserta, agar mampu melaksanakan tugas dengan cepat dan tepat.

    “Kegiatan ini untuk pengembangan kapasitas agar mereka kuat, tidak segan untuk menolong sesama. Maka kita dorong dengan pelatihan ini, nanti akan kita susul dengan kegiatan lain,” ujarnya, Rabu (29/06/2022).

    Machbub menyebutkan, sebanyak 50 peserta pelatihan meliputi 20 orang TRC BPBD Kota Magelang dan sisanya para relawan dari unsur masyarakat. 

    BPBD Kota Magelang merupakan perangkat daerah yang baru terbentuk, sehingga masih perlu pengembangan baik sumber daya manusia maupun sarana dan prasarananya.

    “Kami bertahap untuk pemenuhan peralatannya, kita juga tidak hanya mengandalkan APBD Kota Magelang, tapi juga mengusulkan anggaran ke Pemprov Jateng, BNPB dan menggandeng swasta,” imbuhnya.

    Sementara itu, Wali Kota Magelang dr Muchamad Nur Aziz mengatakan pelatihan tersebut untuk memperkuat secara teknis tim TRC maupun relawan untuk kesiapan jika terjadi bencana.

    Pihaknya akan terus mengembangkan BPBD agar menjadi lembaga yang bisa diandalkan saat terjadi bencana.

    “Ini untuk memperkuat teknis, kalau terjadi bencana sudah siap. Akan dikembangkan terus dengan anggaran yang ada. Sarana prasarana harus dilengkapi karena baru setahun, kita tambah satu per satu,”ucapnya.

    Ia berpesan, TRC harus tanggap dan tangguh dalam menangani bencana, bersemangat, penuh pengabdian dan tanpa pamrih menolong sesama.

    “Selain itu, TRC diharapkan menularkan pengetahuan dan keterampilan yang telah didapat dari pelatihan ini ke relawan yang lain,” urainya. (*)

  • Baru Dibentuk, BPBD Kota Magelang “Tancap Gas” Latih Mitigasi Bencana

    Baru Dibentuk, BPBD Kota Magelang “Tancap Gas” Latih Mitigasi Bencana

    KOTA MAGELANG, MAGELANGEKSPRES.COM – Setelah dibentuk, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Magelang langsung tancap gas. Sebanyak 60 warga dari 17 kelurahan yang ada diberikan pelatihan agar selalu siap siaga dan mampu menekan kerugian akibat bencana.

    Kepala Pelaksana BPBD Kota Magelang, Machbub Yani Arfian mengatakan, mengenali wilayah sendiri menjadi cara melatih warga mampu memilih jalur evakuasi aman saat bencana terjadi. Metode ini mengajak masyarakat untuk tahu seluk-beluk wilayahnya sendiri melalui gambar peta mandiri.

    ”Kota Magelang walaupun wilayahnya kecil hanya 18,53 kilometer persegi tapi rawan terjadi bencana longsor. Harapannya dengan memberikan pelatihan ini, warga bisa memitigasi secara mandiri,” kata Machbub, di sela Penguatan Kapasitas Kawasan Masyarakat Daerah Longsor di Kantor BPBD setempat, kemarin.

    Pemetaan wilayah longsor, katanya, menjadi tanggung jawab semua pihak, termasuk masyarakat. Diharapkan, dengan pemetaan ini mampu memitigasi risiko bencana longsor.

    ”Seperti kita tahu, hampir setiap tahun terjadi bencana longsor dan angin kencang di Kota Magelang. Terutama di daerah dengan kontur tanah yang lembek serta daerah terjal, yang merata di semua kecamatan,” ucapnya.

    Dia juga meminta, selain mitigasi masyarakat juga bisa berperan aktif menangani bencana longsor. Salah satunya dengan gotong-royong melakukan proses evakuasi, dan lain sebagainya.

    ”Kita tidak berharap ada longsor, tapi kalaupun terjadi budaya kita yaitu gotong-royong harus selalu digerakkan untuk mengurangi beban saudara kita yang tengah terkena musibah,” jelasnya.

    Machbub juga berharap, materi pelatihan dan pembekalan ini tidak berhenti. Masyarakat yang lain, harus menerima pengetahuan ini agar penanganan bencana bisa kompak dilaksanakan.

    Sementara itu, narasumber dari Garda Rescue Kota Magelang, Heri Prawoto menjelaskan bahwa mitigasi adalah metode pencegahan timbulnya risiko besar saat bencana terjadi. Menurut dia, selain longsor, Kota Magelang juga memiliki kerawanan angin kencang dan pohon tumbang.

    ”Kita harus senantiasa waspada, tapi juga jangan terlalu ketakutan. Ketika terjadi bencana, kita tahu apa yang harus dilakukan untuk meminimalisasi kerugian yang diderita,” tandasnya. (wid)